Selasa, 05 Juni 2012

Mini Survey

SELAMAT PAGIIIIIII SEMUAAAAAAA \(^O^)/

Pada mata kuliah Psikologi Pendidikan, kami mendapat tugas untuk melakukan sebuah mini survey secara online. Jadi untuk mengerjakan tugas tersebut, maka saya membuat mini survey online yang berisikan 7 pernyataan. Mini survey saya ini bertemakan mengenai apakah minat & semangat mahasiswa untuk mengikuti suatu mata kuliah dipengaruhi oleh kondisi kelas, cara mengajar dosen dan kesukaan mahasiswa terhadap mata kuliah tersebut. Mini survey ini diikuti oleh 55 orang partisipan.


Berikut adalah 7 pernyataan yang ada di kuisioner:

1. Kondisi lingkungan kelas mempengaruhi semangat anda mengikuti mata kuliah
2. Kondisi lingkungan kelas yang tidak kondusif dapat menurunkan semangat dalam mengikuti mata kuliah
3. Bagaimana cara dosen mengajar mempengaruhi minat anda dalam mengikuti mata kuliah
4. Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode ceramah
5. Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode presentasi
6. Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode diskusi
7. Tingkat semangat anda dalam mengikuti suatu mata kuliah dipengaruhi oleh kesukaan anda pada mata kuliah tersebut



Dan berikut adalah tabel hasil mini survey nya:


No
Pernyataan
Jawaban
Tidak Setuju
Netral
Setuju
1.
Kondisi lingkungan kelas mempengaruhi semangat anda mengikuti mata kuliah
0%
(0)
9%
(5)
91%
(50)
2.
Kondisi lingkungan kelas yang tidak kondusif dapat menurunkan semangat dalam mengikuti mata kuliah
2%
(1)
20%
(11)
78%
(43)
3.
Bagaimana cara dosen mengajar mempengaruhi minat anda dalam mengikuti mata kuliah
0%
(0)
9%
(5)
91%
(50)
4.
Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode ceramah
7%
(4)
46%
(25)
47%
(26)
5.
Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode presentasi
16%
(9)
44%
(24)
40%
(22)
6.
Anda lebih suka apabila dosen menggunakan metode diskusi
11%
(6)
60%
(33)
29%
(16)
7.
Tingkat semangat anda dalam mengikuti suatu mata kuliah dipengaruhi oleh kesukaan anda pada mata kuliah tersebut
4%
(2)
16%
(9)
80%
(44)


Kesimpulan:
Berdasarkan pernyataan poin 1, 2, 3 & 7, dapat dilihat bahwa sebanyak 40 orang lebih partisipan menyatakan setuju dengan pernyataan ini. Ini menunjukkan bahwa minat & semangat mahasiswa untuk mengikuti suatu mata kuliah dipengaruhi oleh kondisi kelas, cara mengajar dosen dan kesukaan mahasiswa terhadap mata kuliah tersebut.

Testimonial:
Mata kuliah pendidikan selalu mengajarkan hal-hal yang baru kepada saya. Dimulai dari blended learning, dan juga mini survei yang dilakukan secara online ini. Dengan adanya tugas ini, saya dapat menambah wawasan bagaimana cara membuat survei secara online. Melalui tugas survei ini pun saya dan teman-teman lainnya saling membantu satu sama lain dan peduli terhadap yang lainnya.


Tetap semangat teman-teman \(^o^)/

Sabtu, 12 Mei 2012

Kisah saya dan Blended Learning

Jadi pada hari Jum'at pada tanggal 11 Mei 2012 kemarin, saya memiliki kelas Psikologi Pendidikan pada jam 8 pagi. Nah berdasarkan informasi yang telah diberikan oleh dosen pengampu kami, yaitu Ibu Dina, maka pada tanggal 11 Mei 2012 itu kami akan kuliah dengan sistem blended learning.

Sudah tau dong apa itu blended learning? Dan tentunya sudah paham juga kan bagaimana kira-kira blended learning tersebut?

Ternyata blended learning itu tidak seperti yang kita bayangkan lho. Ternyata blended learning itu lebih menyenangkan dari yang kita bayangkan. Saya dan anggota kelompok saya cukup excited dalam menggunakan metode blended learning ini. Waktu perkuliahan berlalu tidak terasa karena kami asyik berdikusi online. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah feedback Ibu Dosen Pengampu kami, yaitu Ibu Dina mengatakan bahwa hasil diskusi kami itu fantastis. Mungkin itu karena kami melakukan diskusi dalam bahasa inggris. Tujuan awalnya yaitu agar saya dan teman-teman dapat berdiskusi sambil melatih kemampuan berbahasa, walaupun kemampuan berbahasa inggris saya tidak cukup sempurna, namun ternyata saya tidak menemukan masalah yang cukup sulit dalam pelaksanaan blended learning pertama saya pada hari itu. Hambatan yang datang malah dari jaringan internet yang sedikit bermasalah, namun diluar dari itu , saya merasa senang sekali mengetahui mengenai blended learning yang ternyata sangat bermanfaat bagi saya.

Semoga blended learning juga dapat memberikan manfaat yang cukup besar kepada teman-teman semua. Ayoo kita sama-sama belajar. Tetap semangaaaaat! \(^o^)/


Yuk berkenalan dengan Blended Learning

Haloo semuaaaa \(^o^)/
Sudah pada tau tentang Blended Learning belum?
Bukaaan, ini bukan semacam minuman seperti Ice blended coffee, ataupun Ice blended yang lain :)))
Kalo belum tau, yuk mari kita kenalan dengan Blended Learning ini...

Mungkin ada beberapa dari kita yang harus belajar dengan adanya penjelasan dari dosen ataupun guru kita, jadi walaupun sudah ada textbook dan kita sudah membacanya, tapi tetep aja kita ngerasa masih belum paham dan mengerti mengenai topik itu kalau dosen kita belum menjelaskan kepada kita. Padahal bisa saja apa yang sudah kita pahami malah lebih luas dari apa yang dijelaskan oleh dosen kita. Intinya kita masih saja merasa ada yang 'kurang' tanpa penjelasan dari dosen kita.

Nah di sisi lain, ada beberapa yang malah menurutnya tidak wajib mendapat penjelasan dari dosen sama sekali, karena dia mampu belajar dari mana saja. Bisa dari textbook misalnya, ataupun dari internet, dan juga bisa dari sumber-sumber lain seperti buku-buku pelengkap lainnya. Nah tipe yang ini hanya memandang dosen sebagai fasilitator dia dalam belajar, jadi bila dia menemukan kesulitan dan masih belum dapat menyelesaikan masalahnya, dia dapat bertanya kepada dosennya. Dan peran dosen disini hanya sebagai fasilitator dan membuat mahasiswa lebih aktif untuk belajar.


Nah dengan adanya tipe yang berbeda seperti ini, kita dimudahkan untuk menyatukannya dengan sebuah metode pembelajaran, yaitu Blended Learning. Jadi blended learning ini adalah suatu metode pembelajaran dengan menggabungkan beberapa metode yang berbeda, yaitu face-to-face learning (metode pembelajaran tatap muka) dan online learning. Adapun online learning ini adalah compuer-mediated atau pembelajaran berbasis komputer secara online. Nah tapi untuk mempermudah bisa juga digunakan melalui mobile.


Jadi perbedaan Blended Learning dengan metode pembelajaran yang biasa/konvensional (metode tatap muka) ini adalah pada blended learning, kita juga menggunakan teknologi yang sudah ada, jadi proses pembelajaran tidak hanya melalu ceramah dosen ataupun presentasi, tetapi kita juga dapat melakukan diskusi secara online ataupun melakukan video conference agar lebih memaksimalkan informasi-informasi yang kita dapat. Nah dengan adanya Blended Learning ini, kita dituntut untuk mengikuti dan mengetahui informasi teknologi terbaru yang sedang berkembang, karena Blended Learning ini sendiri berbasis komputer dan secara online sehingga mengharuskan kita memiliki gadget pendukung seperti komputer/laptop ataupun sebuah smartphone. Nah inilah yang masih menjadi salah satu penghambat dalam menjalankan Blended Learning ini, yaitu masalah peralatan. Masalah jaringan juga menjadi penghambat yang cukup besar, karena kita tidak bisa melakukan secara online apabila jaringan koneksi tidak memadai. Namun, Blended Learning ini juga cukup efektif dan fleksibel dalam pelaksanaannya. Terutama dalam waktu dan tempat pelaksanaannya. Jadi apabila seorang dosen berhalangan untuk hadir, namun dosen tersebut juga dapat memberika kuliah online kepada mahasiswanya, jadi dengan begitu maka tidak terjadi kendala pada pelaksanaan kuliah tersebut. Kuliah tetap berjalan walaupun dosen tersebut berhalangan hadir.

Jadi selamat mencoba Blended Learning ini. Semoga menambah pengalaman dan bermanfaat buat kita semua \(^o^)/


Senin, 16 April 2012

Psikologi Sekolah

Kelompok 5


1. Kedudukan Psikologi Sekolah dalam Ilmu Psikologi
Psikologi sekolah merupakan suatu cabang ilmu dari psikologi pendidikan.



2. Perbedaan Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah
Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana proses belajar mengajar dalam lingkup pendidikan. Sedangkan psikologi sekolah yang merupakan cabang dari psikologi pendidikan mempelajari bagaimana menciptakan keefektifan dalam proses belajar mengajar di sekolah, baik dari sisi pendidik dan anak didik.



3. Fungsi Sekolah Sebagai Agen Perubahan
Sekolah merupakan wadah bagi anak untuk melakukan proses belajar, baik dari segi perkembangan kognitif, perkembangan sosioemosional, dan perkembangan fisik. Anak yang sebelumnya berperan sebagai seorang anak di dalam keluarga, kini berperan sebagai agen sosial yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya melalui proses belajar.



4. Metode dalam Sistem Pengajaran Sekolah
Metode dalam sistem pengajaran terkini ada dua jenis dan disesuaikan dengan usia belajar anak. Misalnya, anak TK, SD, dan SMP akan lebih dianjurkan untuk menggunakan metodeteacher-centered dimana pendidik lebih aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Sementara untuk anak SMA dan mahasiswa akan sangat dianjurkan untuk menggunakan metode learner-centereddimana anak didik lebih aktif dan reflektif untuk melakukan kegiatan belajar.



5. Permasalahan di Sekolah dan Solusi
Sejak lama, disiplin murid merupakan masalah besar bagi guru. Kebanyakan guru mengatasinya dengan metode represif yang digunakan untuk menegakkan hukum, seperti menyindir, mengubah tempat duduk, memberi nilai jelek, bahkan mengusir. Tentu saja hal ini salah karena pendidik bukanlah polisi.
Menurut Kooi dan Schutx (1975), hal yang dianggap sebagai pelanggaran disiplin dikategorikan ke dalam lima kategori, yaitu :
· Agresi fisik ; pemukulan, perkelahian, perusakan, dsb
· Kesibukan berteman ; berbincang, berkunjung ke bangku teman lain tanpa izin, dsb
· Mencari perhatian ; mengedarkan tulisan atau gambar untuk mengalihkan perhatian dari pelajaran
· Menantang wibawa guru ; memberontak, tidak mau menurut, memrotes kasar, dsb
· Merokok di sekolah, datang terlambat, membolos, cabut, mencuri, tidak berpakaian sesuai aturan, mem-bully, dsb



Solusi yang ditawarkan berupa pendekatan terhadap anak didik, seperti pendidik perlu mengevaluasi sebab anak didik melakukan pelanggaran tersebut. Bossone (1979) menyatakan bahwa pelanggaran disiplin banyak tergantung pada keberhasilan guru mengelola kelas agar suasana kelas menyenangkan dan efektif sebagai sarana belajar.
Beberapa saran bagi pendidik adalah mengenali anak didiknya ; melibatkan siswa dalam membuat aturan bagi kelas ; pelaksanaan kegiatan dan aturan bersifat efisien dan konsisten, dan bertindak arif.



6. Fungsi dan Peran Psikolog Sekolah
Fungsi dan peran psikolog sekolah dibagi ke dalam lima tugas pokok, yaitu :
· Diagnosis
· Intervensi langsung
· Konsultasi pendidikan
· Evaluasi
· Pelacakan kembali


7. Layanan yang Diberikan Oleh Psikolog Sekolah
Menurut Jack I. Bardon (1982), ada empat tingkat pelayanan atau fungsi psikologi yang dapat dilacak berdasarkan sejarah perkembangannya.
Tingkat I semakin berkembang. Yang tadinya berfungsi hanya sebagai tes kecerdasan, yang kemudian bertambah dengan pemberian laporan tertulis yang berisi gambaran kelemahan dan kekuatan yang terungkap dalam tes.
Tingkat II dipengaruhi oleh perkembangan psikologi klinis, yaitu perubahan dari menyajikan laporan dan interpretasi hasil tes menjadi melaksanakan praktek klinis psikoedukasi. Praktek klinis tersebut dapat berupa menerima referal langsung dari guru, orang tua, staff/tata usaha, dan lembaga masyarakat di sekitarnya, melakukan tes lengkap, mengungkap informasi pengaruh kehidupan keluarga dan sekolah yang erat kaitannya dengan masalah yang dihadapi anak didik, dan mengkonsultasikan hasil tes anak didik kepada guru dan orang tua untuk mengevaluasi anak.
Pada tingkat III, layanan yang diberikan oleh psikolog sekolah semakin erat dengan masalah kelompok dalam kelas dan pendekatan intervensinya semakin berorientasi dengan pendidikan, tercakup dalam pendekatan intervensi yaitu pendidikan afektif dalam kelas, penataran staff, dan pendidikan orang tua siswa.
Pada tingkat IV, psikolog sekolah tidak hanya melakukan intervensi langsung kepada siswa, guru, dan orang tua, namun juga terlibat dalam tindakan yang menyangkut kebijakan dan prosedur sekolah dalam pengembangan dan evaluasi program dan pelayanan sekolah.



8. Perbedaan Psikolog Pendidikan, Psikolog Sekolah, dan Guru BK
Psikolog pendidikan adalah ahli psikologi yang menerapkan profesi psikologi di lingkungan pendidikan terkait dengan psikologi belajar atau pengembangan tes prestasi ataupun segala kegiatan yang terkait dengan proses belajar mengajar secara luas.
Psikolog sekolah adalah ahli psikologi yang menerapkan profesi psikologi di sekolah terkait dengan evaluasi anak didik, intervensi dengan anak didik, pendidik, dan orang tua dalam rangka menciptakan keefektifan belajar anak didik di sekolah, bahkan terlibat dalam tindakan yang menyangkut kebijakan dan prosedur sekolah dalam pengembangan dan evaluasi program dan pelayanan sekolah.
Bimbingan dan Konseling di sekolah diartikan sebagai pelayanan khusus yang terorganisasi sebagai bagian integral dari lingkungan sekolah, yang tugasnya meningkatkan perkembangan siswa dan membantu siswa ke arah penyesuaian yang lebih tepat, serta pencapaian prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Jadi, tugas guru BK lebih kepada membantu anak didik untuk memecahkan permasalahan pribadinya yang kemungkinan mengganggu proses dirinya di sekolah.

Kamis, 05 April 2012

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini





Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan yang dilaksanakan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu pembinaan terhadap anak yang dilakukan sejak anak berusia nol sampai enam tahun melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan otak, jasmani, dan rohani sehingga anak akan lebih siap dalam menghadapi atau melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya baik dalam jalur pendidikan formal, nonformal maupun informal.
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini bahkan sejak dalam kandungan sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, cipta, rasa dan karsa. Dengan demikian investasi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini merupakan investasi sangat penting bagi sumber daya manusia yang berkualitas.
Berikut ini merupakan berbagai macam aspek perkembangan kognitif , fisik dan sosio-emosional dari perkembangan anak usia dini :



1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah:
(1) Tahap sensorimotor, usia 0 – 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja;
(2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas;
(3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi;
(4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.



2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)


3. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak:
(1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga;
(2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;
(3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah;
(4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas. Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.

Kamis, 22 Maret 2012

Charles Spearman : TheTwo-Factor Theory of Intelligence

Kelompok 5

Charles Edward Spearman (10 September 1863 – 17 September 1945) adalah seorang psikolog Inggris yang pernah berkarir sebagai pasukan angkatan darat Inggris selama 15 tahun. Beliau mengundurkan diri dari pasukan angkatan darat dan melanjutkan studinya dalam psikologi eksperimental di Leipzig. Setelah terhambat oleh panggilan bertugas kembali oleh pasukan angkatan darat untuk perang di Afrika Selatan, akhirnya ia mendapat gelar Ph.D pada tahun 1906 dengan menerbitkan penelitian mengenai analisis factor kecerdasan pada tahun 1904. 
The Two-Factors Theory yang dikembangkan oleh Charles Spearman mendasarkan teorinya pada analisis factor yang memengaruhi inteligensi. Menurut Spearman, inteligensi adalah kemampuan untuk berpikir dan menimbang.
Dasar teori ini berangkat dari analisis korelasional yang dilakukan terhadap seperangkat tes inteligensi yang mempunyai tujuan dan fungsi akhir berbeda. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi positif di antara berbagai tes tersebut. Menurut Spearman, korelasi positif tersebut didapat karena masing-masing tes tersebut memang mengukur suatu factor umum yang sama atau general factors = Faktor ‘g’. Sedangkan factor yang spesifik dan hanya dapat diungkap oleh tes tertentu disebut special factors = Faktor ‘s’.
·         Faktor ‘g’ dimiliki oleh semua individu, berupa kemampuan umum atau kemampuan yang mendasari perilaku individu dan biasanya bersifat herediter, seperti kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dll
·         Faktor ‘s’ dimiliki individu sebagai keahlian khusus di bidang tertentu dan biasanya diperoleh melalui proses belajar, misalnya keahlian bermain alat musik yang dipelajari dan membutuhkan latihan
Definisi inteligensi menurut Spearman mengandung dua makna kualitatif, yaitu :
·         Education of Relation, yaitu kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku di antara dua hal. Misal, menemukan hubungan dasar yang terdapat di dalam dua kata ‘panjang – pendek’
·         Education of Correlation, kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses sebelumnya ke situasi baru. Proses ini merupakan proses penalaran yang menggunakan analogi
 
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin. 2002. Pengantar Psikologi Inteligensi Edisi I Cetakan III. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Suardi, Dewa Ketut. 2003. Analisis Tes Psikologi. Jakarta : Rhineka Cipta

Sabtu, 10 Maret 2012

Psikologi Pendidikan dan Fenomena Pendidikan di Indonesia



Bagaimana pandangan dan penilaian kelompok Anda sehubungan dengan kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Pendidikan 3 sks T.A 2011/2012 harus memiliki email dan blog ditinjau dari uraian Psikologi Pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia, Medan khususnya?

Pandangan dan penilaian kelompok kami terhadap kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mk.psikologi pendidikan 3 sks ta. 2010/2011 yang harus memiliki e-mail dan blog ditinjau dari uraian psikologi pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia, terutama Medan, adalah:

Menurut kelompok kami, kewajiban mahasiswa untuk membuat email dan blog ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Pertama-tama kami akan membahas kelebihan dari kewajiban ini. Dengan diharuskannya mempunyai 1 akun email dan blog pada mata kuliah ini, maka mau tidak mau mahasiswa harus membuat 1 akun email dan blog tersebut, terlepas dari apakah mereka paham ataupun tidak paham bagaimana cara membuatnya. Nah dengan cara ini pula, mahasiswa dapat menjadi pribadi yang lebih open minded, atau yang wawasan nya akan dunia luar lebih luas, termasuk didalamnya dunia maya ataupun social media lainnya. Nah mahasiswa juga lebih mudah mengakses informasi & menjadi lebih tanggap terhadap teknologi yang dewasa ini telah menjadi sebuah kebutuhan. Mahasiswa yang diharapkan untuk lebih aktif dalam proses belajar dan mengajar dapat diaplikasikan didalam proses pembuatan email dan blog yang menjadi keharusan. Dan dengan adanya kewajiban ini, mahasiswa dipaksa untuk mengetahui dan bisa menggunakan internet sebagai media teknologi, informasi dan komunikasi.

Selain kelebihan, tentunya juga ada kelemahan yang kami simpulkan didalam proses pembuatan email dan blog ini. Nah kelemahan-kelemahan inilah yang sering menghambat terlaksananya tujuan dari mata kuliah ini. Adapun kelemahan-kelemahan yang dapat kami simpulkan adalah bagi mahasiswa yang belum memiliki kelengkapan peralatan teknologi komunikasi ini ( mis: laptop, modem, smartphone, tablet pc, dll) secara lengkap, maka akan menemui beberapa kendala dalam proses pembuatan email dan blog tersebut, dan tidak hanya dalam proses pembuatan, kendala-kendala justru muncul ketika akan mengakses email dan blog ini. Hal ini membuat mahasiswa ini tidak selalu bisa mengetahui informasi-informasi terbaru ataupun tugas-tugas yang baru diberikan.

Fenomena ini bila dikaitkan dengan pola pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya Kota Medan, menurut kelompok kami, fenomena seperti ini sudah seharusnya diterapkan dalam proses belajar mengajar. namun karena fasilitas yang belum memadai, maka fenomena ini masih menghadapi banyak kendala di dalam prosesnya. Nah untuk itu, maka adalah sudah menjadi tugas kita semua para generasi muda yang harus menyempurnakannya agar kelak semua kalangan masyarakat dapat menikmati teknologi tanpa terkecuali.



DAFTAR PUSTAKA
Santrock, John.W. 2007. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Kencana Prenada Media Group : Jakarta