Kamis, 21 Juni 2012

Imam Al-Ghazali bertanya...

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :

Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama sebelum menyesal".

Imam Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 = " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

Imam Ghazali = " Apa yang paling berat didunia? "
Murid 1 = " Baja "
Murid 2 = " Besi "
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 = " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT (Surah al-Ma'un (4-7). Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. "

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? "
Murid- Murid dengan serentak menjawab = " Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA (Surah 2:217). Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "

Semoga bermanfaat J
Sumber : http://kartika71tik.blogspot.com/2011/03/nilai-pengetahuan.html 

Minggu, 10 Juni 2012

Guru sebagai Fasilitator???

Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi), khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar.

Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.

Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat “top-down” ke hubungan kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat “top-down”, guru seringkali diposisikan sebagai “atasan” yang cenderung bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan pawang, sebagaimana disinyalir oleh Y.B. Mangunwijaya (Sindhunata, 2001). Sementara, siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru.

Berbeda dengan pola hubungan “top-down”, hubungan kemitraan antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Oleh karena itu, agar guru dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator seyogyanya guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam pendidikan kemitraan, yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila:
  • Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas pembelajaran
  • Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis (usable).
  • Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.
  • Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir siswa.
  • Terbina saling pengertian, baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa

DAFTAR PUSTAKA

Sindhunata. 2001. Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman, Yogyakarta : Kanisius
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/18/peran-guru-sebagai-fasilitator/

Simulasi Paedagogi dan Andragogi

Nur Hikmah (11-006)
Putri Azura Ulandari (11-034)
Ratri P. Surbakti (11-098)

Pada kelas Psikologi Pendidikan tanggal 8 Juni 2012 kemarin, kami diminta untuk mensimulasikan bagaimana paedagogi dan andragogi, hasil simulasi kelompok kami adalah sebagai berikut.

Simulasi Paedagogi

Settingnya adalah di sebuah kelas, sedang terjadi proses belajar mengajar antara murid dan gurunya. Mata pelajaran yang sedang diajarkan adalah sejarah. Yang berperan sebagai Guru adalah Ratri. Putri & Hikmah berperan sebagai murid 1 dan murid 2.

Guru             : "Selamat pagi anak-anak."
Murid 1 & 2 : "Selamat pagi Bu...."
Guru             : "Jadi hari ini kita akan belajar sejarah ya, mengenai peristiwa rengasdengklok       coba kalian lihat pada halaman 55!"
Murid 1 & 2 : "Baik Bu Guru."
Guru             : "Nah jadi menurut yang ada di buku, Peristiwa Rengasdengklok ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Yaitu ketika Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Jadi kalian sudah bisa mengerti kan apa itu peristiwa rengasdengklok?"
Murid 1 & 2  : "Sudah Bu."

Nah pada paedagogi ini, murid bersifat pasif dan menerima mentah semua yang dikatakan oleh gurunya. Bersifat teacher-centered, sehingga ketika informasi yang diungkapkan oleh gurunya itu salah, maka anak didiknya juga akan menangkap mentah-mentah apa yang dikatakan oleh gurunya tanpa ada sikap kritis ataupun pertanyaan lebih jauh. Untuk lebih memahami mengenai paedagogi, berikut disajikan gambar yang menjelaskan mengenai paedagogi.



Simulasi Andragogi

Ada tiga orang mahasiswa yang sedang berbincang-bincang. Salah satu dari mereka asik dengan hp nya sendiri, maka teman-temannya yang lain pun mencari tahu sedang apa dia dengan hapenya.

Putri      : "Sihiy, yang main hp terus, asik banget tuh kayaknya, kamu lagi ngapain sih itu?"
Hikmah : "Hehehe..." J
Ratri     : "Eh, ini hp keluaran yang terbaru ya?"
Putri      : "Iya deh kayaknya,, gimana cara makenya tuh Hikmah?"
Hikmah : "Nah, ini namanya aplikasi bbm. Blackberry messenger."
Ratri      : "Hah? Apa? Bbm? Apakah semacam bahan bakar mesin begitu?"
Hikmah : "Bukaaaan.... jadi bbm itu aplikasi yang mengizinkan kita untuk bertukar pesan, seperti chatting gitu deh."
Putri      : "Sama aja dong kayak sms-an, bedanya apa?"
Hikmah : "Dengar dulu, gak cuma buat bertukar pesan aja kok, tapi bisa kirim foto, kirim lagu, kirim semuanyalah."
Ratri      : "Yakin bisa kirim semuanya? Beneran semuanya? Kok bisa? Kena pulsa gak?"
Putri      : "Iya, kok bisa? Gimana caranya?"
Hikmah : "Jadi karena blackberry ini merupakan salah satu smartphone yang berbasis internet, jadi otomatis semua fitur-fiturnya juga berbasis internet, seperti blackberry messenger itu juga misalnya. Pada fitur blackberry messenger itu kita bisa berhubungan dengan orang-orang lain dengan mengetahui pin mereka, pin ini seperti nomor hp gitu, lalu kita meng-invite mereka menjadi contact kita, nah setelah mereka menjadi salah satu yang ada di contact kita, kita jadi dapat ber-bbm-an ria dengan mereka."
Ratri      : "Lalu bagaimana bisa kita mengirimkan lagu dan gambar?"
Putri      : "Iya, gimana caranya tuh? ada kena tambahan biaya gak?"
Hikmah : "Sabar-sabar... Iya jadi yang namanya ber-bbm-an ria itu kita bisa chatting dengan mereka dan bisa mengirimkan lagu, gambar, ataupun rekaman suara. Mirip seperti fitur mms gitu deh, tapi gak kena tambahan biaya kok. Pokoknya asik deh." J
Putri      : "Wah asik dan seru sekali sepertinya yaaa. Aku jadi pengen coba nih..."
Hikmah : "Asik banget tau." J
Ratri      : "Sebenarnya aku masih belum ngerti sih, tapi mungkin setelah mencobanya aku jadi lebih paham mungkin ya."
Hikmah : "Iyaa, coba aja nih, silahkan..." J

Nah, kalo andragogi disini mereka berdiskusi mengenai aplikasi bbm yang terdapat dalam blackberry. Hikmah sudah menggunakan blackberry, sehingga lebih tahu menjadi orang yang memberitahukan apa fungsi & bagaimana kinerja bbm itu kepada Ratri & Putri. Sementara ratri & Putri masih tidak tahu dan baru mengetahui mengenai blackberry, tetapi mereka berfikir kritis, tidak mau menerima informasi mentah-mentah. Mereka mencari tahu secara detail dan mengeluarkan semua ketidaktahuan mereka. Jadi terdapat sebuah interaksi yang timbal balik pada andragogi ini. Untuk lebih memahami mengenai andragogi, berikut disajikan gambar yang menjelaskan mengenai andragogi.


Siapakah Bapak Teori Andragogi?

Kalau Gregor Mendel adalah Bapak Genetika dan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, maka Bapak dari Teori Andragogi ini adalah Malcolm Knowles J


Knowles terkenal dengan teori andragoginya, oleh karena itu dianggap Bapak Teori Andragogi meskipun bukan dia yang pertama kali menggunakan istilah tersebut. Andragogi berasal dari akar kata “aner” yang artinya orang (man) untuk membedakannya dengan “paed” yang artinya anak. Knowles (Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Knowles (1970) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang berbeda dengan pedagogi. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut:

Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.

Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratori, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.

Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat. Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono, 1992). Selajan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya.

Asumsi keempat, bahwa anak-anak sudah dikondisikan untuk memiliki orientasi belajar yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered orientation) karena belajar bagi anak seolah-olah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar. Sedang orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan masalah kehidupan (problem-centered-orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya. 

Kempat asumsi dasar itulah yang dipakai sebagai pembandingan antara konsep pedagogi dan andragogi

Lebih rinci Knowles menegaskan adanya perbedaan antara belajar bagi orang dewasa dengan belajar bagi anak-anak dilihat dari segi perkembangan kognitif mereka. Menurut Knowles, ada empat asumsi utama yang membedakan antara andragogi dan pedagogi, yaitu:

♦ Perbedaan dalam konsep diri, orang dewasa membutuhkan kebebesan yang lebih bersifat pengarahan diri.

♦ Perbedaan pengalaman, orang dewasa mengumpulkan pengalaman

♦ Kesiapan untuk belajar, orang dewasa ingin mempelajari bidang permasalahan yang kini mereka hadapi dan anggap relevan

♦ Perbedaan dalam orientasi ke arah kegiatan belajar, orang dewasa orientasinya berpusat pada masalah dan kurang kemungkinannya berpusat pada subjek.

Knowles membedakan orientasi belajar antara anak-anak dengan orang dewasa, dilihat dari segi perspektif waktu yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya perbedaan manfaat yang mereka harapkan dari belajar.

Anak-anak berkecenderungan belajar untuk memiliki kemampuan yang kelak dibutuhkan untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah lanjutan/ perguruan tinggi, yang memungkinkan mereka memasuki alam kehidupan yang bahagia dan produktif dalam masa kedewasaan.

Orang dewasa cenderung memilih kegiatan belajar yang dapat segera diaplikasikan, baik pengetahuan maupun keterampilan yang dipelajari. Bagi orang dewasa, pendidikan orang dewasa pada hakekatnya adalah proses peningkatan kemampuan untuk menanggulangi masalah kehidupan yang dialami sekarang. (Mappa, 1994: 114)


DAFTAR PUSTAKA

Knowles, Malcolm. 1979. The Adult Learning (thirt Edition), Houston, Paris, London, Tokyo: Gulf Publishing Company
Mappa, Syamsu. 1994. Teori belajar Orang Dewasa. Jakarta: Departemen P dan K
Sudjana, H.D. 2005. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production

Andragogi itu....

Dalam pengertian paedagogi seperti yang dijelaskan pada beberapa postingan sebelum ini, timbul pandangan yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan. Lalu bagaimana dengan perubahan-perubahan yang terjadi, seperti inovasi dalam teknologi, perubahan-perubahan dalam sistem ekonomi, politik dan sebagainya, yang begitu cepat terjadi di jaman modern ini ? Nah untuk menjawabnya, maka ada teori pendidikan baru yang dikenal dengan teori mengenai cara mengajar orang dewasa atau disebut dengan andragogi. Andragogi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “andr” yang artinya orang dewasa, dan “agogos” yang artinya membimbing atau memimpin. Dari arti kata tersebut, berkembang pengertian bahwa andragogi adalah suatu ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa belajar.
Knowles (Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Berbeda dengan pedagogi karena istilah ini dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children).

Orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang disebut dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil. Sama seperti paedagogi, pada andragogi juga terdapat beberapa asumsi yang mendasar yaitu:

1. Konsep diri/kepribadian

Pada andragogi, peserta didik dianggap sudah dewasa, sehinga konsep diri atau kepribadiannya berkurang ketergantungannya kepada orang lain dan telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Ia memandang dirinya sudah mampu untuk mengatur dirinya sendiri, sehingga dalam proses pendidikan, para pendidik hanya sekedar mengarahkan. Biasanya hubungan antara guru dan murid itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Implikasinya adalah:
a. Iklim belajar
Iklim belajar harus disesuaikan dengan keadaan peserta belajar, seperti kursi, meja, atau yang lainnya yang dipakai anak-anak tentu berbeda dengan yang dipakai orang dewasa.
b. Partisipasi.
Partisipasi peserta belajar untuk orang dewasa, tentu sangat dibutuhkan, seperti mengikutsertakan peserta belajar dalam merencanakan pembelajaran, mendiagnose kebutuhan belajar, mengevaluasi belajar, dan sebagainya. Karena dengan demikian, maka mereka akan termotivasi untuk belajar, merasa dihargai, dan sebagainya.

    

2. Pengalaman
Bagi orang dewasa pengalaman itu adalah dirinya sendiri. Dan pengalaman mereka justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Oleh karena itu maka proses belajar pada mereka lebih ditekankan kepada teknik yang sifatnya menyerap pengalaman mereka, seperti diskusi, seminar, konferensi kerja, dan sebagainya. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.


3. Kesiapan dan orientasi untuk belajar

Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator. Selain itu, pada orang dewasa, tuntutan tanggung jawab semakin besar, sehingga kesiapan belajar akan lebih tinggi. Maka apa yang dipelajari, secepat mungkin untuk dapat diterapkan. Implikasinya adalah, pada orang dewasa pendidik berperan sebagai teman, yang siap memberikan bantuan kepada orang yang belajar, karena mereka sudah siap dan segera dapat mengaplikasikannya. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan "dimana kita sekarang" dan "kemana kita akan pergi", itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti "memecahkan masalah hari ini".


DAFTAR PUSTAKA

Psikologi Pendidikan vs Paedagogi

Nah jadi Ibu Dina melemparkan pertanyaan ini kepada kami. “Mana yang lebih luas, psikologi pendidikan atau pedagogi?”. Awalnya sih kami semua sangat yakin dengan jawaban bahwa psikologi pendidikan itu lebih luas daripada pedagogi. Banyak alasan yang dikemukakan teman-teman mengenai ini. Kami berfikir bahwa paedagogi menjadi sebuah topik yang dipelajari pada mata kuliah psikologi pendidikan, berarti lebih besar psikologi pendidikan dong daripada paedagogi. Nah banyak dari kami semua yang berfikir seperti itu. Namun setelah diskusi dengan Bu Dina, maka ternyata pemikiran dan opini kami diawal tadi salah. Ternyata konsep paedagogi itu lebih luas dari yang kami bayangkan. Singkatnya, paedagogi itu adalah seni dalam mengajar anak-anak. Nah tapi ini gak hanya di sekolah saja, namun juga berlaku di setiap situasi dimana anak dididik untuk menjadi dewasa, karena paedagogi ini seni dalam mengajar anak-anak dan menghantarkan anak menuju kedewasaan. Jadi paedagogi ini luas sekali. Dan seharusnya paedagogi ini dipelajari oleh setiap guru. Karena setiap tenaga pendidik setidaknya harus tahu apa dasar-dasar ilmu paedagogi untuk dapat meciptakan seni mengajar dan suasana belajar yang menyenangkan namun bermanfaat bagi anak didiknya. Dan pengertian dari psikologi pendidikan yaitu ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental yang terjadi dalam dunia pendidikan. Jadi bagaimana perilaku anak didiknya itu adalah psikologi pendidikan. Sedangkan style atau cara mengajar tenaga pendidiknya itulah paedagoginya.

Jadi apa itu Paedagogi?

Paedagogi berasal dari bahasa Yunani “paedagogia“ yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos”yang artinya “memimpin atau membimbing”. Dari kata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Ada asumsi yang mendasar mengenai paedagogi:

1. Konsep diri/kepribadian

pada paedagogi dikatakan bahwa anak sangat tergantung kepada pihak lain, hampir seluruh kehidupannya diatur oleh orang dewasa, baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat lain. Oleh karena itu pada paedagogi, peserta didik dianggap masih belum mampu untuk mengatur dirinya sendiri. Anak didik dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi air. Dan ada juga yang berpendapat bahwa pendidikan terhadap anak ini diibaratkan seperti memahat sebuah patung. Baik botol maupun patung adalah suatu gambaran dari anak didik yang siap menerima apa adanya dari sang pendidik, tanpa harus memberikan komentar, atau mengembangkan sendiri. 




2. Pengalaman

Pada anak-anak, pengalaman adalah hal yang baru sama sekali. Dan walaupun anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering.Pengalaman pada anak-anak adalah sesuatu yang terjadi pada dirinya.Maka dari itu pengalaman pada anak-anak merupakan rangsangan yang berasal dari luar, dan mempengaruhi dirinya. Penekanan dalam proses belajar untuk anak-anak lebih ditekankan pada pengisian, karena mereka belum banyak pengalaman. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya.





3. Kesiapan dan orientasi untuk belajar

Kesiapan untuk belajar pada anak-anak masih relatif rendah, karena umumnya mereka masih relatif suka bersenang-senang, bermain dan sebagainya, begitu juga tuntutan mereka tidak terlalu besar. Maka orientasi belajar anak-anak cenderung untuk mengumpulkan semua pengetahuan dan keterampilan, dan kelak akan dapat diterapkan. Jadi didalam pendekatan pedagogi ini, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. 
Jadi implikasinya adalah para pendidik untuk anak-anak harus lebih proaktif, karena rangsangan dari para pendidik, sangat mempengaruhi terhadap kesiapan dan orientasi belajar peserta didik. Dan juga kurikulum dalam pendidikan untuk anak-anak berorientasi pada mata pelajaran yang sifatny hafalan. Dan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

Kelas Psikologi Pendidikan pada Jum’at, 1 Juni 2012

Jadi postingan ini seharusnya sudah diposting pada tanggal 2 Juni 2012 lalu, ini adalah tentang testimoni (yang terlewat) mengenai kelas Psikologi Pendidikan pada hari Jum’at, 1 Juni 2012. Topik hari itu adalah mengenai Paedagogi, jadi akan saya mulai menceritakan bagaimana kelas pada hari itu.

Jadi pagi itu merupakan salah satu jum’at pagi yang cukup menegangkan bagi saya dan para mahasiswa kelas Psikologi Pendidikan. Mengapa? Karena kelas Psikologi Pendidikan yang biasanya adem ayem tiba-tiba berubah menjadi menegangkan untuk sesaat. Saya pada hari itu dateng tepat sebelum pintu kelas ditutup dan mahasiswa sudah tidak boleh masuk lagi unutk mengikuti kelas. Lalu tiba-tiba Ibu Dina, dosen pengampu mata kuliah Psi Pendidikan kami, menyuruh kami untuk memakai KTM, dan yang kelupaan membawa KTM dipersilahkan keluar dari kelas. Maka saya dan teman-teman sibuk mengambil KTM kami dan memakainya, namun sayang, ada 2 orang teman yang harus keluar dari ruangan karna tidak membawa KTM L

Kami pikir ketegangan sudah berakhir sampai disitu, ternyata tidak! Bu Dina mencairkan suasana dengan bertanya mengenai topik hari ini dan apa tugas yang telah diberikan oleh beliau minggu lalu. Jadi tugasnya itu adalah membaca mengenai topik mata kuliah hari ini, yaitu Paedagogi. Selanjutnya, Bu Dina berkata bahwa yang tidak belajar ataupun membaca mengenai paedagogi, silahkan keluar. Maka berlanjutlah ketegangan yang kami rasakan tadi. Dan ternyata banyak teman-teman yang keluar kelas, dan yang tinggal hanya 15 orang ._.

Jujur saja, kami yang 15 orang didalam kelas tersebut bener-bener deg-degan, namun Bu Dina mencairkan suasana dengan permainan lempar bola. Jadi kami membuat sebuah lingkaran dan siapa yang menerima lemparan bola akan menjawab apa yang dia ketahui mengenai paedagogi. Lalu setelah itu kami melakukan diskusi, melalui diskusi inilah Bu Dina menjelaskan dan membuat kami paham mengenai apa itu Paedagogi.

Sungguh hari Jum’at dan kelas Psikologi Pendidikan yang sangat berkesan bagi saya \(^o^)/

Sabtu, 09 Juni 2012

Mini Project : Pendidikan Prasekolah di TK Bina Kusuma

TOPIK : (9) Ruang Lingkup Pendidikan Usia Prasekolah
JUDUL : Pendidikan Anak Prasekolah di TK Bina Kusuma



BAB 1 :  PERENCANAAN

1.1              PENDAHULUAN
Pendidikan prasekolah adalah hal yang menarik perhatian orang tua, masyarakat, dan pemerintah sebagai pengambil keputusan. Seiring berkembangnya zaman, orang tua menyadari bahwa kualitas pada masa anak-anak (early childhood), termasuk masa prasekolah, merupakan cermin kualitas bangsa di masa depan.
Pada masa kini, kebanyakan orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah secepat mungkin dengan alasan agar anak pintar lebih cepat dari anak-anak lainnya. Yang menjadi fokus penelitian ini adalah apakah kegiatan atau pendidikan yang diberikan lembaga pendidikan prasekolah masa kini sudah sesuai dengan tahapan perkembangan atau kurikulum yang semestinya?

1.2              LANDASAN TEORI
1.2.1    Sejarah dan Tokoh
Sebagai ayah pendidikan anak usia bayi, Frederich Wilhelm Froebel, sangat mempengaruhi rancangan model sekolah prasekolah di seluruh dunia masa kini. Ia menciptakan garden of children atau kindergarten (Taman Kanak-Kanak) dimana pendidikan di dalamnya perlu mengikuti sifat anak pada masa itu, yaitu bermain. Hal penting lainnya adalah dasar bagi kurikulum yang dirancang Froebel, yaitu gift (objek yang dapat dipegang dan digunakan anak sesuai instruksi guru, sehingga anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran, warna, dan menghitung), occupation(materi untuk mengembangkan berbagai keterampilan, seperti menjahit sesuai pola, membuat bentuk mengikuti pola, menggunting, menggambar, menempel dan melipat kertas, dll), nyanyian, dan permainan yang mendidik.

1.2.2    Anak Prasekolah
Menurut Biechler dan Snowman (1993), anak prasekolah adalah anak usia 3-6 tahun. Snowman (1993) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah yang biasanya ada di TK. Ciri-ciri yang dikemukakan meliputi :
Ciri Fisik :
·         Sangat aktif, menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri
·         Kemampuan motorik kasar lebih berkembang daripada kemampuan motorik halus
·    Memiliki kesulitan dalam memfokuskan pandangan pada objek kecil yang menyebabkan koordinasi tangan dan mata belum sempurna
·       Anak laki-laki lebih terampil melakukan kegiatan motorik kasar, sedangkan anak perempuan lebih terampil melakukan kegiatan motorik halus

Ciri Sosial :
·     Umumnya memiliki satu atau dua sahabat berjenis kelamin sama, namun cepat berganti karena anak sangat mudah menyesuaikan diri
·         Kelompok bermain kecil dan tidak terstruktur
·   Perselisihan sering terjadi namun tidak akan berlangsung lama, biasanya karena perebutan mainan
·         Memiliki kesadaran akan gender dan sex typing

Ciri Emosional :
·         Cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka dan lebih sering berperilaku tempertantrum

Ciri Kognitif :
·         Sudah terampil berbahasa dan sangat senang berbicara
·         Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi sesuai dengan minat

1.2.3        Pendidikan Prasekolah
Menurut The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), pendidikan prasekolah (early childhood education) adalah pelayanan yang diberikan dalam tatanan masa kanak awal. Fungsi pendidikan prasekolah sendiri merupakan sebagai persiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih matang.
Menurut UU RI No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 (2), pendidikan prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasai pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.

1.2.4        Bermain
Menurut Bergen (1988), bermain dalam tatanan pendidikan prasekolah dapat digambarkan sebagai berikut :
·    Bermain bebas ; kegiatan bermain dimana anak berkesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan memilih bagaimana menggunakan alat tsb
·       Bermain dengan bimbingan ; kegiatan bermain dimana guru memilih alat dan anak dapat memilih untuk menggunakannya dengan konsep tertentu
·  Bermain dengan diarahkan ; kegiatan bermain dimana guru mengajarkan bagaimana menyelesaikan suatu tugas khusus

Melalui kegiatan bermain, guru mendapat gambaran tentang tahap perkembangan dan kemampuan umum anak. Bentuk bermain tersebut :
Bermain Sosial
Dengan bentuk seperti ini, guru dapat melihat partisipasi anak dalam suatu kegiatan bermain dan akan menunjukkan derajat partisipasi berbeda. Parten (1932) dan Brewer (1992) menjelaskan berbagai derajat partisipasi anak :
·       Solitary Play ; anak bermain sendiri tanpa menghiraukan anak lainnya
·       Onlooker Play ; anak hanya sebagai penonton dalam permainan tersebut
·      Parallel Play ; anak menggunakan mainan yang sama atau meniru cara anak lain bermain, namun tetap bermain sendiri
·       Associative Play ; anak bermain bersama namun permainan tidak terstruktur
·       Cooperative Play ; anak bermain bersama dengan aturan-aturan tertentu

1.2.5    Praktik Pendidikan Anak Prasekolah
Pada tahun 1986, NAEYC meneliti isu praktik yang cocok dikembangkan pada program masa awal anak-anak. Dalam suatu studi, anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah dengan praktik yang cocok menurut dokumen yang diterbitkan NAEYC memperlihatkan perilaku kelas yang lebih cocok dan kebiasaan belajar yang lebih baik (Hart & others, 1993).
KOMPONEN
PRAKTIK YANG COCOK
PRAKTIK YANG
TIDAK COCOK
Perkembangan bahasa, melek huruf, dan
perkembangan kognitif
Mendengar dan membaca cerita, bermain drama, mengikuti kunjungan lapangan, berbicara secara informal dengan anak-anak dan orang dewasa lain
Mengenal huruf tunggal, membaca alphabet, menyanyikan nyanyian alphabet, mewarnai sesuai pola, menulis huruf di atas pola yang sudah tercetak
Mengembangkan pemahaman konsep diri dengan berinteraksi dengan lingkungan, mencari solusi atas masalah konkret, mempelajari matematika, sains, ilmu sosial, kesehatan yang diintegrasikan melalui kegiatan bermakna
Pelajaran menekankan perkembangan keterampilan secara terpisah melalui ingatan. Perkembangan kognitif anak dilihat sebagai terkotak-kotak dalambidang pelajaran, dan jadwal disusun untuk setiap pelajaran itu
Perkembangan fisik
Mengembangkan otot besar melalui berlari, melompat, melakukan kegiatan di luar rumah dan direncanakan setiap hari
Peluang untuk mengembangkan otot besar terbatas karena belajar terfokus di dalam ruangan
Mengembangkan otot kecil melalui melukis, menggunting, dll
Kegiatan otot kecil terbatas pada menulis dengan pensil, mewarnai bentuk yang sudah digambar sebelumnya, dll
Perkembangan astetika dan motivasi
Mengekspresikan diri dengan seni dan musik difasilitasi oleh alat seni
Seni terdiri dari mewarnai sesuai contoh, menyanyi mengikuti arahan guru
Keingintahuan untuk memahami dunia digunakan untuk memotivasi anak untuk terlibat dalam belajar
Anak diwajibkan berpartisipasi, untuk memperoleh hadiah atau untuk menghindari hukuman
Namun semakin berkembangnya zaman juga menuntut perubahan praktik yang dilakukan oleh lembaga pendidikan prasekolah, namun tetap disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sehingga menghasilkan perilaku yang diinginkan serta menjadi persiapan yang matang untuk anak masuk ke kelas satu.

1.3              ALAT/BAHAN
           -          Kamera                  -   Notes             -    Pulpen

1.4       ANALISIS DATA   
Data diperoleh melalui kegiatan observasi langsung di lembaga pendidikan prasekolah yang telah ditentukan. Data yang telah diperoleh akan diolah sesuai dengan teori pendidikan anak prasekolah.

1.5       SAMPEL PENELITIAN DAN LOKASI PENGAMBILAN DATA
Sampel     :  Siswa dan guru kelas TK-A dan TK-B di TK Bina Kusuma
                                  Lokasi      :  TK Bina Kusuma Jl. Karya Wisata No. 20,22,24, Sumatera Utara

1.6              JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN

No.
URAIAN
MAR
APR
MEI
JUN
1
Diskusi Pemilihan Topik
2
Diskusi Pemilihan Judul dan Teori
3
Observasi
4
Pengolahan Data
5
Diskusi dengan Dosen
6
Diskusi Kelompok
7
Pembuatan Poster
8
Posting Blog


BAB 2 : PELAKSANAAN

2.1              SISTEMATIS PELAKSANAAN PENELITIAN
22 Maret 2012  :  Diskusi Pemilihan Topik
27 Maret 2012  :  Diskusi Pemilihan Judul dan Teori
12 Mei 2012      :  Observasi
17 Mei 2012     :  Pengolahan Data
25 Mei 2012     :  Diskusi dengan Dosen
25 Mei 2012     :  Diskusi Kelompok
27 Mei 2012      :  Pembuatan Poster
8 Juni 2012     :  Posting Blog


BAB 3 :  LAPORAN DAN EVALUASI DATA

3.1              LAPORAN
1.   Jadwal Kegiatan (Sabtu, 12 Mei 2012)
08.00 – 08.30  :  Bel berbunyi, berbaris, berolahraga, permainan, menyanyi dan menari bersama
08.30 – 09.15  :  Sesi kelas pertama
                     09.15 – 09.30  :  Istirahat, bermain bersama di luar kelas, cuci tangan dan berdoa bersama sebelum makan
09.30 – 10.00  :  Makan bersama di dalam kelas masing-masing
10.00 – 11.00  :  Sesi kelas kedua, pulang

2.   Sistematika Observasi

  • Kelompok tiba di TK Bina Kusuma pada pukul 07.55. Anak-anak sedang bersiap di ruang tengah sekolah
  •   Pukul 08.00 anak-anak berbaris membentuk lingkaran di ruang tengah dan berolahraga kecil, menyanyi dan menari bersama yang diarahkan langsung oleh guru-guru yang berdiri di tengah lingkaran

  • Pukul 08.30 anak-anak masuk ke kelasnya masing-masing. Kelompok masuk ke kelas TK-A.




-    Kelas berkapasitas 16 orang, namun yang hadir hanya 12 orang pada Sabtu, 12 Mei 2012. Kelas dipimpin oleh dua orang guru, Miss Yati dan Miss Yesi. Kelas berukuran kurang lebih 3 x 3 m dengan dua meja besar di kedua sisinya, masing-masing meja diisi oleh 8 orang anak yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Dinding kelas diisi dengan hasil karya siswa dan beberapa gambar sebagai pembantu materi pelajaran.
-    Anak-anak masuk kelas, duduk di kursinya, lalu berdoa yang dipimpin oleh Miss Yati dan Miss Yesi. Doa dilakukan dengan nyanyian dalam bahasa Inggris. Kelompok memperkenalkan diri, anak-anak maju bersalaman dan memperkenalkan diri kepada kelompok
-    Miss Yati meminta anak-anak mengeluarkan pr dan mengumpulkannya kepada Miss Yesi.
- (1) Anak-anak mengeja alphabet dalam bahasa inggris menggunakan gambar yang ditempel di papan tulis dan dibimbing oleh Miss Yati. (2) Anak-anak menghitung angka 1-30 dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris dan dibimbing oleh Miss Yati. (3) Anak-anak dipanggil satu-satu ke depan untuk menulis satu kata yang diarahkan Miss Yati, kecuali beberapa anak yang memiliki kekurangan


     -  Beberapa anak yang mendapat perhatian khusus dari guru adalah :
  (1)   A: belum mampu berbicara dengan jelas padahal usianya sudah 5 tahun, belum bisa baca tulis, tidak bisa memfokuskan perhatian 
 (2)  K: menggunakan alat bantu pendengaran, guru harus menggunakan bahasa isyarat untuk memberi instruksi, cepat menangkap pelajaran
  (3)   Ke : terlalu sering melamun, sering memandang dirinya sebagai orang dewasa
  (4)   As : unggul dalam audio, saat belajar ia tidak  melihat gurunya sedang menerangkan di depan tetapi ketika diberikan pertanyaan terkait ia mampu menjawab dengan tepat

  • Pukul 09.15 anak-anak selesai sesi kelas pertama. Anak-anak diizinkan bermain di ruang tengah sekolah hingga pukul 09.30. Sebelum masuk kelas, anak-anak dibagi ke dalam dua barisan untuk mencuci tangan. Setelah seluruh anak mencuci tangan, anak-anak berbaris di depan kelasnya masing-masing dan berdoa serta menyanyi bersama.



  •  Pukul 09.30 anak-anak masuk ke kelas masing-masing dan makan bersama, kelompok menunggu di luar agar kegiatan makan bersama tidak terganggu
  •  Pukul 10.00, anak-anak masuk ke kelas masing-masing. Kelompok masuk ke kelas TK B.


- Kelas berkapasitas 32 orang, namun yang hadir hanya 22 orang pada Sabtu, 12 Mei 2012. Kelas dipimpin oleh tiga orang guru, Miss Mira, Miss Rin, dan Miss Evi. Kelas berukuran kurang lebih 3,5 x 4,5 m dengan 4 meja besar di kedua sisinya, masing-masing meja diisi oleh 8 orang anak. Dinding kelas diisi dengan hasil karya siswa dan beberapa gambar sebagai pembantu materi pelajaran.


- Anak-anak sudah duduk rapi dikelas setelah makan bersama. (1) Miss Evi membagikan buku prakarya. Miss Evi meminta mereka menggunting kertas yang sudah berpola dan menempelkannya di buku prakarya sesuai contoh gambar yang tertera. (2) Setelah seluruh siswa selesai mengerjakan prakarya, anak-anak dibimbing oleh Miss Evi untuk menghafalkan Pancasila beserta simbolnya. Anak-anak sudah terlihat lancar dalam menghafal. (3) Miss Evi memanggil beberapa anak untuk berlomba di depan kelas secara bergiliran hingga seluruh anak berkesempatan ikut andil dalam lomba. Miss Evi memberikan karton berbentuk rumah yang sisi-sisinya berlubang yang nantinya akan dimasukkan tali sesuai dengan pola yang sudah ada.



-    Anak-anak banyak diminta menyanyikan nyanyian yang telah diajarkan sebelumnya dan dibimbing oleh Miss Rin dan Miss Mira.
-      Beberapa anak yang mendapat perhatian khusus dari guru adalah :
-      (1)   I : sulit menangkap pelajaran dan sulit berkonsentrasi
-   (2)   A : memiliki mistrust yang tinggi, sulit beradaptasi dengan orang baru dan hanya percaya kepada gurunya saja
-   (3)   Ay : selesai paling dahulu ketika diminta mengerjakan prakarya ; pada saat lomba ketika anak-anak memulai rajutan tali dari puncak rumah, ia memulai dari sisi bawah rumah
-    (4)   F : mudah stress ketika tidak mampu menyelesaikan suatu tugas, ia akan menendang kursinya dan menjambak rambutnya



  •     Pukul 11.00, anak-anak pulang. Jika belum dijemput orang tuanya, anak tidak diizinkan keluar kelas. Selagi menunggu orang tuanya, anak-anak diizinkan menghabiskan bekal makanan atau bermain.


  • -    H dan A bermain mobil-mobilan, satu mobil dimainkan bersama. N hanya menonton permainan mereka, namun ikut memberi arahan terhadap kecepatan dan arah mobil melaju


  • -   F, A, S, P mengisi waktu luangnya dengan menggambar. Mereka saling mencontoh gambar temannya namun tetap menggambar di bukunya sendiri



           3.2              EVALUASI
    • Kegiatan prasekolah menurut dasar kurikulum Froebel :

    -      Gift : objek yang dapat dipegang dan digunakan anak sesuai instruksi guru, sehingga anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran, warna, dan menghitung. Anak-anak di TK Bina Kusuma tidak menggunakan objek langsung. Anak-anak menggunakan gambar atau poster yang berisi gambar-gambar angka atau huruf untuk dipelajari melalui bimbingan guru.
    -  Occupation : materi untuk mengembangkan berbagai keterampilan, seperti menjahit sesuai pola, membuat bentuk mengikuti pola, menggunting, menggambar, menempel dan melipat kertas, dll). Anak-anak di TK Bina Kusuma sudah memenuhi dasar kurikulum ini. Anak-anak menggunting, menggambar, menempel, dan melipat kertas.
    -     Nyanyian : Anak-anak di TK Bina Kusuma menggunakan nyanyian di dalam kelas dan doa yang disusun sebagai nyanyian. Kebanyakan nyanyian yang digunakan dalam bahasa inggris.
    • Kegiatan prasekolah dilihat dari pemenuhan perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional.

    -   Fisik : Anak-anak di TK Bina Kusuma berolahraga kecil dan menari dahulu sebelum masuk ke kelas untuk sesi pertama. Selain itu, pada saat istirahat, anak diizinkan untuk bebas berlari, melompat, dan bermain yang melibatkan aktivitas fisik bersama dengan teman-teman lainnya
    -       Kognitif : Anak-anak di TK Bina Kusuma melatih kognisi melalui hafalan huruf dan angka dengan bahasa Inggris. Mereka juga menyelesaikan kegiatan prakarya dimana membutuhkan kemampuan memori yang kuat untuk mengingat dan mencocokkan hasil prakarya mereka dengan contoh, dll
    -   Sosioemosional : Anak-anak di TK Bina Kusuma melatih perkembangan sosioemosional melalui kegiatan bermain dengan teman-temannya. Mereka dilatih untuk berinteraksi dan menyesuaikan emosi mereka di lingkungan kelas
    • Sedangkan menurut isu praktik yang cocok yang dikeluarkan NAEYC, kebanyakan praktik yang ada termasuk ke dalam praktik yang tidak cocok. Menurut kelompok, terdapat perbedaan pandangan mengenai praktik yang cocok-tidak cocok dengan alas an tahun penelitian dimana penelitian ini dilakukan tahun 1986. Seiring perkembangan zaman, tentunya akan ada perubahan pandangan mengenai praktik yang cocok-tidak cocok, seperti kebutuhan untuk belajar bilingual yang kini merupakan isu penting di masa prasekolah tentu akan menjadi praktik yang sangat tidak cocok di tahun 1986.


                 3.3              TESTIMONI
    •  Laili Isrami (11-020)

    Menurut saya, tugas proyek mini adalah hal yang baru dan merupakan tugas yangmenyenangkan karena anak-anak sebagai sampel penelitian lucu dan menerima kelompok kami dengan baik

    • Haifa Chairunnisa (11-050)

    Menurut saya, tugas proyek mini cukup membantu saya dalam mengaplikasikan teori yang telah pelajari sebelumnya. Bagi saya dan kelompok, penelitian ini sangat menyenangkan karena siswa dan murid cukup kooperatif selama observasi berlangsung

    • Ratri P.S. (11-098)

    Menurut saya, tugas proyek mini ini merupakan hal yang baru dan cukup menantang dan cukup menyenangkan. Dan dengan adanya tugas proyek mini ini saya menjadi lebih mengerti mengenai teori yang telah dipelajari dan yang berhubungan langsung dengan tugas mini proyek ini.

    3.4       POSTER


    3.5       LAMPIRAN



    DAFTAR PUSTAKA

    Patmonodewo, DR. Soemiarti. 2000. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : PT. Rineka Cipta dan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
    Papalia, Diane E., Olds Sally Wendkos, Feldman Duskin Ruth. 2008. Human Development Edisi 10 Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika
    Santrock, John W.. 2002. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 1,University of Texas at Dallas. Jakarta : Erlangga
    Hurlock, Elizabeth B.. 1980. Developmental Psychology : A Life-Span Approach, Fifth Edition.Jakarta : Erlangga